Tiga jam sebelum acara dimulai, keramaian sudah nampak di lobby Ruang Birawa Hotel Bidakara Jakarta. Lebih dari 500 orang memadati lobby untuk menghadiri malam pemberian penghargaan Hari Kesehatan Nasional ke-51 pada tanggal 27 November 2015 yang akan dimulai pada pukul 18.30 WIB. Termasuk perwakilan dari 3 provinsi pemenang Penilaian Pemanfaatan TOGA atau yang dahulu disebut dengan Lomba TOGA. Penilaian pemanfaatan TOGA merupakan salah satu kategori dalam penghargaan di bidang kesehatan Hari Kesehatan Nasional ke-51. Ketiga provinsi pemenang yaitu Kalimantan Timur, Lampung, dan Daerah Istimewa Yogyakarta juga hadir dalam acara ini. Masing-masing provinsi diwakili oleh 1 anggota keluarga binaan/kader dan 1 orang pendamping dari Puskesmas/Dinas Kesehatan.

Foto Penilaian TOGA

Foto bersama para pemenang dengan Ibu Menteri Kesehatan Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) dan Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA dr. Anung Sugihantono, M.Kes.

Acara dimulai pada pukul 18.30 WIB. Para pemenang menunggu giliran dipanggil ke podium untuk menerima hadiah berupa plakat dari Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan dr. Untung Suseno Sutarjo, M.Kes. Acara pemberian penghargaan ini selesai pada pukul 21.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama para pemenang dengan Ibu Menteri Kesehatan Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) dan Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA dr. Anung Sugihantono, M.Kes.

Dahulu Lomba TOGA diselenggarakan oleh PKK, namun mulai tahun 2015, Penilaian Pemanfaatan TOGA dilaksanakan di bawah Kementerian Kesehatan dengan bekerja sama lintas sektor dengan Kementerian terkait seperti Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pertanian, serta lintas program dengan Promosi Kesehatan. Tujuan diadakannya penilaian pemanfaatan TOGA adalah untuk memotivasi masyarakat sekaligus pembinaan kepada masyarakat agar menanam dan memanfaatkan TOGA untuk kesehatan diri sendiri, keluarga, maupun orang lain.

Diharapkan ke depannya dengan adanya TOGA, masyarakat dapat melaksanakan asuhan mandiri pemanfaatan TOGA untuk menjaga kesehatan dan mengatasi gangguan ringan kesehatan. Tidak hanya berhenti pada menanam dan menjaga tanaman agar dapat ikut perlombaan, namun dapat mengembangkan dan memanfaatkan TOGA agar dapat menambah penghasilan keluarga dan sebagai sarana penghijauan. (syari)

Asuhan Mandiri (Ramuan)Kesehatan tradisional merupakan dari kebiasaan masyarakat yang telah menjadi budaya turun menurun. Penggunaan bahan ramuan (tanaman obat) dan keterampilan (pijat/urut) sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat sejak dahulu. Setiap ada anggota keluarga yang sakit pertolongan pertama biasanya dibawa berobat ke penyehat tradisional di lingkungannya. Dengan berkembangnya pengobatan tradisional saat ini, pengobatan dengan ramuan dan keterampilan juga berkembang di masyarakat.

Seiring dengan sasaran pembangunan kesehatan tahun 2015-2019, diperlukan keterlibatan masyarakat untuk mencapai sehat secara mandiri melalui pemberdayaan masyarakat. Program Indonesia Sehat dilaksanakan dengan salah satu pilar utama yaitu paradigma sehat dengan strategi pengarusutamaan kesehatan dalam pembangunan, penguatan promotif preventif dan pemberdayaan masyarakat.

Asuhan Mandiri (Keterampilan)Dalam pemberdayaan masyarakat, peran serta masyarakat dalam kesehatan disebut UKBM (Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat). Masyarakat dapat membentuk kelompok yang disebut kelompok asuhan mandiri. Kelompok asuhan mandiri ini terdiri dari beberapa keluarga (5-10 keluarga) dengan 1 orang kader sebagai pembimbing. Para kader mendapat pembinaan dan penyuluhan dari Puskesmas. Dalam asuhan mandiri ini,para kader diajarkan cara memanfaatkan tanaman obat dari cara menanam, merawat, memanen, hingga mengolahnya untuk kebutuhan kesehatan diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat. Selain itu kader juga diajarkan cara memijat melalui titik-titik akupuntur (akupresur) untuk mengatasi gangguan kesehatan ringan bagi keluarga atau orang lain. Diharapkan kader untuk kemudian menyebarluaskan informasi/ilmu yang diperoleh kepada seluruh anggota kelompoknya.

Kegiatan yang sudah dilakukan oleh Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif, dan Komplementer dalam rangka mendukung asuhan mandiri adalah dengan melakukan sosialisasi asuhan mandiri, pembentukan kelompok asuhan mandiri, dan pelatihan fasilitator asuhan mandiri. Selain itu, sebagai pedoman atau literatur bagi Dinas Kesehatan maupun Puskesmas, Kementerian Kesehatan menyusun beberapa pedoman tentang Asuhan Mandiri dan Penilaian Pemanfaatan TOGA. (Syari)

pijat-baduta-300x283

Pijat Baduta Bayi Usia Di Bawah Dua Tahun

Pijat bayi merupakan salah satu kebudayaan tradisional yang paling tua di Indonesia bahkan di dunia. Di Indonesia, hampir seluruh daerah di Indonesia mempunyai kebiasaan memijatkan bayinya sejak bayi lahir hingga masa kanak-kanak.

Stimulasi dini dan asupan gizi seimbang yang dilakukan pada usia 0–2 tahun merupakan waktu yang tepat untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

Pemantauan perkembangan bayi, anak Balita dan prasekolah dilaksanakan melalui kegiatan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK). Dengan melaksanakan deteksi dini, maka penyimpangan tumbuh kembang dapat ditemukan lebih dini sehingga lebih mudah diintervensi. Bila penyimpangan terlambat dideteksi, akan lebih sulit diintervensi dan mempengaruhi tumbuh kembang anak. Baca Selengkapnya…

jamuJamu merupakan budaya asli Indonesia yang telah dimanfaatkan secara turun temurun oleh nenek moyang kita.  Penggunaan Jamu saat ini sejalan dengan berkembangnya tren gaya hidup kembali ke alam atau “back to nature“.  Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013 menyebutkan dari 30,4% rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional, 44,9% diantaranya menggunakan ramuan termasuk diantaranya jamu untuk menjaga kebugaran. Pemanfaatannya semakin berkembang dengan banyaknya jamu yang dijual secara bebas, sehingga mudah dibeli  dan  dikonsumsi secara bebas. Bentuk jamu yang beredar di pasaran antara lain bentuk godogan, ramuan ataupun sachet.

Hal yang menjadi masalah adalah ketika jamu yang seharusnya bermanfaat bagi kesehatan, justru menjadi berbahaya bagi tubuh karena dicampur dengan bahan kimia yang disebut dengan Bahan Kimia Obat (BKO). Berdasarkan hasil pengawasan Badan POM dari  bulan November 2013 sampai dengan Agustus 2014 ditemukan sebanyak 51 jamu yang mengandung bahan kimia obat. Dari temuan tersebut, BKO yang teridentifikasi dicampur dalam jamu di dominasi oleh  obat penghilang rasa sakit dan obat rematik seperti parasetamol dan fenilbutason, serta obat penambah stamina/aprodisiak seperti sildenafil.

Bahan Kimia Obat (BKO) adalah senyawa sintetis atau bisa juga disebut produk kimiawi yang berasal dari bahan alam yang umumnya digunakan pada pengobatan modern. BKO dapat terdiri dari bahan kimia aktif ataupun obat jadi. Adanya Jamu yang mengandung BKO di pasaran merupakan salah satu upaya produsen dalam meningkatkan penjualan produknya. Perlu dipahami bahwa jamu tidak dapat memberikan efek pengobatan yang instan, karena berasal dari bahan alam.  Jamu yang mengandung BKO biasanya memberikan efek penyembuhan yang lebih cepat dibandingkan jamu yang tidak mengandung BKO, sehingga masyarakat merasa puas dan cenderung akan mengkonsumsi kembali jamu tersebut pada saat keluhan timbul kembali atau digunakan terus menerus sebagai upaya meningkatkan kesehatannya.

Jamu yang mengandung BKO sangat membahayakan bagi kesehatan apalagi jika digunakan dalam waktu yang lama.  Efek samping yang dapat terjadi antara lain dapat menyebabkan tukak lambung, gagal ginjal dan gangguan hati (liver). Tidak jarang seseorang yang mengkonsumsi jamu dengan BKO pada jangka waktu yang lama,  datang ke dokter pada stadium lanjut dan berujung dengan kematian.

 

Perlu diketahui berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.007 Tahun 2012 tentang Registrasi Obat Tradisional, bahwa jamu yang beredar di masyarakat harus memenuhi berbagai persyaratan, antara lain  menggunakan bahan yang memenuhi syarat keamanan dan mutu, begitu pula proses produksinya harus memenuhi persyaratan cara pembuatan obat tradisional yang baik atau CPOTB.  Jamu sebelum beredar di masyarakat harus terdaftar di Badan POM dan tidak boleh mengandung bahan yang berbahaya, seperti alkohol, bahan kimia obat, narkotika atau psikotropika dan bahan lain yang dianggap berbahaya berdasarkan pertimbangan kesehatan.

Jamu dapat bermanfaat bagi kesehatan jika digunakan secara benar, artinya masyarakat dapat mengkonsumsi jamu sebagai bentuk upaya promotif atau preventif dalam mengatasi gangguan kesehatan ringan atau dimanfaatkan untuk mempercepat penyembuhan sebagai komplemen atau pelengkap dari pengobatan konvensional yang diterimanya.

Sebelum mengkonsumsi jamu untuk pemeliharaan kesehatan, penting untuk mewaspadai dan mencermati produk jamu yang akan dikonsumsi.  Apabila terdapat kecurigaan terhadap jamu yang dikonsumsi, masyarakat dapat menghubungi fasilitas kesehatan atau Balai POM setempat. Pengetahuan tentang jamu dengan BKO sangat penting bagi masyarakat, supaya masyarakat terhindar dari efek samping yang merugikan. Dengan mengkonsumsi jamu yang aman, tidak hanya dapat meningkatkan kesehatan tetapi juga melestarikan budaya bangsa. (Nur Indah)jamu

cover lakip 2014Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif dan Komplementer (Yankes Tradkom) mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan dan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria, serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang bina pelayanan kesehatan tradisional, alternatif dan komplementer. yang dijalankan melalui Indikator Kinerja melalui penyelenggaraan administrasi kepemerintahan sesuai ketentuan dan penyediaan sarana dan prasarana sesuai standar.

Continue reading

MEDIA CETAK TRADKOM

cover2_media_tradkom

Poster Yankestrad 48cm x 62cm REV