jamuJamu merupakan budaya asli Indonesia yang telah dimanfaatkan secara turun temurun oleh nenek moyang kita.  Penggunaan Jamu saat ini sejalan dengan berkembangnya tren gaya hidup kembali ke alam atau “back to nature“.  Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013 menyebutkan dari 30,4% rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional, 44,9% diantaranya menggunakan ramuan termasuk diantaranya jamu untuk menjaga kebugaran. Pemanfaatannya semakin berkembang dengan banyaknya jamu yang dijual secara bebas, sehingga mudah dibeli  dan  dikonsumsi secara bebas. Bentuk jamu yang beredar di pasaran antara lain bentuk godogan, ramuan ataupun sachet.

Hal yang menjadi masalah adalah ketika jamu yang seharusnya bermanfaat bagi kesehatan, justru menjadi berbahaya bagi tubuh karena dicampur dengan bahan kimia yang disebut dengan Bahan Kimia Obat (BKO). Berdasarkan hasil pengawasan Badan POM dari  bulan November 2013 sampai dengan Agustus 2014 ditemukan sebanyak 51 jamu yang mengandung bahan kimia obat. Dari temuan tersebut, BKO yang teridentifikasi dicampur dalam jamu di dominasi oleh  obat penghilang rasa sakit dan obat rematik seperti parasetamol dan fenilbutason, serta obat penambah stamina/aprodisiak seperti sildenafil.

Bahan Kimia Obat (BKO) adalah senyawa sintetis atau bisa juga disebut produk kimiawi yang berasal dari bahan alam yang umumnya digunakan pada pengobatan modern. BKO dapat terdiri dari bahan kimia aktif ataupun obat jadi. Adanya Jamu yang mengandung BKO di pasaran merupakan salah satu upaya produsen dalam meningkatkan penjualan produknya. Perlu dipahami bahwa jamu tidak dapat memberikan efek pengobatan yang instan, karena berasal dari bahan alam.  Jamu yang mengandung BKO biasanya memberikan efek penyembuhan yang lebih cepat dibandingkan jamu yang tidak mengandung BKO, sehingga masyarakat merasa puas dan cenderung akan mengkonsumsi kembali jamu tersebut pada saat keluhan timbul kembali atau digunakan terus menerus sebagai upaya meningkatkan kesehatannya.

Jamu yang mengandung BKO sangat membahayakan bagi kesehatan apalagi jika digunakan dalam waktu yang lama.  Efek samping yang dapat terjadi antara lain dapat menyebabkan tukak lambung, gagal ginjal dan gangguan hati (liver). Tidak jarang seseorang yang mengkonsumsi jamu dengan BKO pada jangka waktu yang lama,  datang ke dokter pada stadium lanjut dan berujung dengan kematian.

 

Perlu diketahui berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.007 Tahun 2012 tentang Registrasi Obat Tradisional, bahwa jamu yang beredar di masyarakat harus memenuhi berbagai persyaratan, antara lain  menggunakan bahan yang memenuhi syarat keamanan dan mutu, begitu pula proses produksinya harus memenuhi persyaratan cara pembuatan obat tradisional yang baik atau CPOTB.  Jamu sebelum beredar di masyarakat harus terdaftar di Badan POM dan tidak boleh mengandung bahan yang berbahaya, seperti alkohol, bahan kimia obat, narkotika atau psikotropika dan bahan lain yang dianggap berbahaya berdasarkan pertimbangan kesehatan.

Jamu dapat bermanfaat bagi kesehatan jika digunakan secara benar, artinya masyarakat dapat mengkonsumsi jamu sebagai bentuk upaya promotif atau preventif dalam mengatasi gangguan kesehatan ringan atau dimanfaatkan untuk mempercepat penyembuhan sebagai komplemen atau pelengkap dari pengobatan konvensional yang diterimanya.

Sebelum mengkonsumsi jamu untuk pemeliharaan kesehatan, penting untuk mewaspadai dan mencermati produk jamu yang akan dikonsumsi.  Apabila terdapat kecurigaan terhadap jamu yang dikonsumsi, masyarakat dapat menghubungi fasilitas kesehatan atau Balai POM setempat. Pengetahuan tentang jamu dengan BKO sangat penting bagi masyarakat, supaya masyarakat terhindar dari efek samping yang merugikan. Dengan mengkonsumsi jamu yang aman, tidak hanya dapat meningkatkan kesehatan tetapi juga melestarikan budaya bangsa. (Nur Indah)jamu

Comments are closed.

MEDIA CETAK TRADKOM

cover2_media_tradkom

Poster Yankestrad 48cm x 62cm REV