sikesadmin

foto_review penelitian sp3tKeberadaan  Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (Sentra P3T) belum banyak dikenal orang termasuk di jajaran kesehatan. Namun, hadirnya Sentra P3T diharapkan mampu secara optimal menapis metode pengobatan tradisional yang berkembang di masyarakat. Tak bisa dipungkiri praktik pengobatan tradisional yang berkembang di masyarakat saat ini begitu marak, seiring dengan meningkatnya minat dan pilihan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan tradisional. Tak jarang, metode yang digunakan,baik ramuan maupun keterampilan seringkali dipromosikan berlebihan (superlatif).Untuk melindungi masyarakat pengguna dari bahan ramuan, alat dan metode yang berbahaya perlu dilakukan upaya penapisan.

Dalam sejarahnya, inisiasi pembentukan Sentra P3T adalah untuk membina, mengembangkan dan mengawasi pengobatan tradisional yang ada di masyarakat. Selain itu, unit ini juga ditujukan mengangkat kekayaan hayati tanaman obat dan metode pengobatan tradisional Indonesia yang mempunyai potensi untuk dikembangkan.Pada saat itu memang belum ada unit khusus yang menangani pengkajian terhadap penyelenggaraan pengobatan tradisional yang berkembang di masyarakat. Mendukung pengembangan program kesehatan tradisional, Prof.Dr.dr.Azrul Azwar, MPH, Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat periode 1998–2005 memberikan arahan bahwa untuk mengantisipasi perkembangan pelayanan kesehatan tradisional di Indonesia maka perlu di bentuk Center of Excellent Kesehatan Tradisional yang berperan melakukan kajian dan penapisan.

dan pada tahun-tahun berikutnya sampai dengan sekarang telah dikembangkan di seluruh provinsi kecuali Provinsi Kalimantan Utara.Dalam perkembangannya, sejak tahun 1995–2011 telah terbentuk Sentra P3T di 11 Provinsi, yaitu Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, dan Maluku. Namun, patut disayangkan kebijakan tersebut tidak didukung oleh pembiayaan yang cukup dan berkesinambungan sehingga keberadaan Sentra P3T mengalami matisuri. Baru sejak terbentuknya Direktorat Bina Pelayanan KesehatanTradisional, Alternatif dan Komplementer pada tahun 2011 keberadaan 11 Sentra P3T direvitalisasi

Dalam Permenkes No.90 Tahun 2013 tentang Sentra Pengembangan dan Penerapan PengobatanTradisional, dijelaskan bahwa Sentra P3T adalah suatu wadah untuk melakukan penapisan melalui proses pengkajian, penelitian, dan/atau pengujian terhadap metode pelayanan kesehatan tradisional yang sedang berkembang dan/atau banyak dimanfaatkan oleh masyarakat.Kegiatan Sentra P3T dilaksanakan oleh Tim Pelaksana yang ketenagaan nyater diri dari kalangan akademisi/peneliti yang berada di bawah Tim Pengendali Dinas Kesehatan Provinsi.Tugas dan fungsi Sentra P3T tercantum dalam  Permenkes No.90 Tahun 2013 tentang Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional di antaranya melakukan penapisan melalui pengkajian, penelitian, dan/atau pengujian terhadap metode, bahan/obat tradisional dan alat kesehatan tradisional, yang sedang berkembang dan/atau banyak dimanfaatkan oleh masyarakat serta menggali kearifan lokal yang sudah memiliki bukti empiris dalam mengatasi masalah kesehatan di wilayah provinsi.

Kegiatan penapisan rutin dilaksan akan oleh masing-masing Sentra P3T setiap tahunnya (Annual Screening). Demi meningkatkan kualitas hasil penelitian, maka diadakanlah workshop dengan sasaran peserta para peneliti Sentra P3T di 33 provinsi.Penapisan yang dilakukan oleh masing-masing Sentra P3T harus memenuhi beberapa prinsip, yaitu: tidak melanggar etik, sejalan dengan kebijakan Kementerian Kesehatan, dilakukan oleh orang/lembaga/institusi yang kompeten, dan menggunakan pendekatan metode ilmiah baik kualitatif maupun kuantitatif.Adapun pengkajian pelayanan kesehatan tradisional diprioritaskan pada: pelayanan kesehatan tradisional yang menggunakan metode/bahan/alat yang belum jelas keamanan dan manfaatnya serta berpotensi membahayakan/meresahkan masyarakat dan/atau banyak digunakan masyarakat, berpotensi besar dalam mengatasi masalah kesehatan dan mendukung program nasional, bersifat spesifik  lokal, dan berpotensi HKI (Hak Kekayaan Intelektual).

Mekanisme kegiatan penapisan yang dilakukan oleh Sentra P3T diawali dengan mengajukan proposal penelitian.Tim Pelaksana Sentra P3T memaparkan proposal penelitiannya di hadapan Tim Pembahas di Pusat.Apabila hasilp enilaian proposal layak dan disetujui oleh Tim Pembahas maka Tim Pelaksana Sentra P3T dapat menyusun dan mengajukan protocol penelitian.Protokol yang telah disusun, dikirim ke Pusat untuk mendapat persetujuan Tim Pembahas. Apabila hasil penilaian protocol disetujui oleh Tim Pembahas, maka Tim Pelaksana Sentra P3T dapat mengajukan protocol tersebut ke Komis Etik setempat. Protokol yang telah mendapat persetujuan etik sudah dapat dilaksanakan untuk kegiatan penapisan.Dalam proses pelaksanaan penapisan, Ketua Tim Pelaksana Sentra P3T berkoordinasi dengan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi selaku Ketua Tim Pengendali P3T. Penapisan dilaksanakan dalam masa tahun anggaran sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.Selanjutnya, hasil penelitian disampaikan oleh tim peneliti masing-masing Sentra P3T melalui kegiatan Seminar Hasil Penapisan  untuk direview oleh Tim Pembahas Penapisan.

Padatahun 2015, Seminar Hasil Penapisan Sentra P3T diselenggarakan di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan.Kegiatan berlangsung selama 3 hari dari tanggal 23 – 25 November 2015 dengan mengundang Tim Pembahas Penapisan dan perwakilan dari 33 Sentra P3T.Selanjutnya hasil review oleh Tim Pembahas Penapisan diteruskan kepada Tim Pokjanas untuk disusun suatu rekomendasi yang akan disampaikan kepada Menteri Kesehatan.Hasil penapisan dapat berupa:

  1. Hasilpenapisan yang berpotensi dikembangkan penapisannya lebih lanjut;
  2. Hasil penapisan yang dapat dikembangkan dan diterapkan di masyarakat; dan
  3. Hasil penapisan sebagai database kesehatan tradisional.

(Zahida)

pijit-jamu

Pijat Tradisional Indonesia

Menurut World Health Organization (WHO) setiap negara perlu mengangkat serta mengembangkan pengobatan tradisional di masing-masing negara. Saat ini, masyarakat dunia memiliki kecenderungan untuk kembali ke alam (back to nature) dalam hal menjaga, memelihara dan meningkatkan derajat kesehatannya,  dengan memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional yang salah satunya adalah pijat. Dalam pengembangan pelayanan kesehatan tradisional, maka terdapat tiga komponen yang harus dikembangkan, yakni product, practice, dan practitioners.

Yang dimaksud Pijat itu sendiri adalah teknik perawatan tubuh dengan cara mengusap, menekan, meremas/mencubit, menepuk dan menggetarkan menggunakan tangan,  kaki tanpa atau dengan alat bantu lain berujung tumpul, umumnya menggunakan minyak kelapa yang adakalanya diperkaya dengan ramuan tradisional khas Indonesia pada permukaan tubuh yang memberikan efek stimulasi dan relaksasi, melancarkan peredaran darah, melancarkan peredaran limfe (getah bening), mengoptimalkan dan menguatkan fungsi organ tubuh untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran. Baca Selengkapnya

pijat-baduta-300x283

Pijat Baduta Bayi Usia Di Bawah Dua Tahun

Pijat bayi merupakan salah satu kebudayaan tradisional yang paling tua di Indonesia bahkan di dunia. Di Indonesia, hampir seluruh daerah di Indonesia mempunyai kebiasaan memijatkan bayinya sejak bayi lahir hingga masa kanak-kanak.

Stimulasi dini dan asupan gizi seimbang yang dilakukan pada usia 0–2 tahun merupakan waktu yang tepat untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

Pemantauan perkembangan bayi, anak Balita dan prasekolah dilaksanakan melalui kegiatan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK). Dengan melaksanakan deteksi dini, maka penyimpangan tumbuh kembang dapat ditemukan lebih dini sehingga lebih mudah diintervensi. Bila penyimpangan terlambat dideteksi, akan lebih sulit diintervensi dan mempengaruhi tumbuh kembang anak. Baca Selengkapnya…

cover lakip 2014Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif dan Komplementer (Yankes Tradkom) mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan dan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria, serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang bina pelayanan kesehatan tradisional, alternatif dan komplementer. yang dijalankan melalui Indikator Kinerja melalui penyelenggaraan administrasi kepemerintahan sesuai ketentuan dan penyediaan sarana dan prasarana sesuai standar.

Continue reading

outbound malangMalang (17/9), Sinar matahari yang hangat menyambut tim kami seusai mendarat di bandara abdurahman saleh, selepas perjalanan 1 jam lebih dari Jakarta, perjalanan dilanjutkan dengan makan siang dan menuju tempat acara, tidak kurang dari 60 orang pegawai Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif dan Kompelemnter Direktorat Jenderal Bina Gizi dan KIA mengikuti acara ini, acara di buka dengan motivasi indoor oleh motivator dari TIPS Indonesia untuk melepaskan sekat dan hambatan komunikasi yang ada, dimana semua pejabat struktural dan direktur diminta untuk “membuka” bajunya masing2 untuk meningkatkan kinerja dan mewujudkanteam work yang solid.

Sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan, Continue reading

MEDIA CETAK TRADKOM

cover2_media_tradkom

Poster Yankestrad 48cm x 62cm REV